Monday, 21 January 2019

30HBC1921: Cerita dari Sini



- - -

Siapa yang berangan-angan kuliah di Bandung terus kemudian milih kampus Unpad? Mohon maaf nih ya, Unpad teh di Sumedang (pinggir banget) bukan di Bandung, walaupun dekeeeet banget sama perbatasan wilayah Bandung-Sumedang.

Sudah sedari dulu saya memiliki angan-angan untuk kuliah di kota kembang. Tapi, terkabulnya di sebuah kecamatan kecil (mini banget huhu) dengan kode pos 45363 dan merupakan rumah dari empat kampus di Indonesia.

Tiga setengah tahun yang lalu, saya mengepak segala pakaian yang sekiranya dibutuhkan, setengah koleksi novel dan sebuah gitar usang, kemudian ijin pergi meninggalkan rumah sementara waktu untuk menimba ilmu. Tiga setengah tahun yang lalu, saya berdoa agar diberi teman-teman yang baik, dosen-dosen yang baik, dan dijauhkan dari bahaya selama mencoba tinggal mandiri. Tiga setengah tahun yang lalu, saya berpikir bahwa saya siap untuk melewati perkehidupan perkuliahan.

Nyatanya, begitulah.

Karena hidup penuh naik dan turun, terkadang naik sambil jungkir balik, terkadang turun sambil menggelendung mulus. Terkadang ada hari-hari yang hanya bisa dilewati dengan doa dan istighfar, baru kemudian di malam hari bersujud meminta keringanan hati. Terkadang mulut ini tidak berhenti tersenyum lebar hingga pipi sakit, dengan hati lapang seolah tidak pernah tersakiti. Terkadang jiwa dan raga sangat rindu rumah, tapi apa daya banyak kewajiban yang tidak bisa ditinggal. Terkadang, pulang adalah satu-satunya solusi dari hati yang sakit.

Waktu saya di sini, di sebuah kampus yang luas dan berada di kaki bukit, dengan musim tak tentu dan kehidupan yang serba nano-nano, hanya tinggal beberapa bulan lagi. Mungkin tidak sampai setahun. Terlalu banyak hal yang dipelajari, namun hati seolah berkata bahwa masih terlalu banyak hal yang belum dipelajari. Baik itu tentang ilmu di dunia perkuliahan maupun di kehidupan.

(Foto terakhir menandakan awal dari fasa terakhir hidup saya di perkuliahan ini, alias penanda mulainya penyusunan skripsweet yang bikin galau dan gundah. Semangat untuk rekan yang sedang menyusun juga! Semoga lancar!)

- - -


Sunday, 20 January 2019

30HBC1920: 어묵



- - -

Eomuk: Korean fish cakes, typically made with surimi, wheat flour, carrots, onion, salt, sugar and other additives. These ingredients are mixed, kneaded, shaped then boiled, steamed or fried.

Salah satu street food atau jajanan ala Korea yang harus dicoba adalah eomuk (어묵), atau lebih dikenal sebagai fish cakes. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang familier (seperti otak-otak) tapi tetap unik. Ditambah kuahnya yang bikin tubuh hangat, cocok sebagai cemilan di malam musim gugur yang dingin 😁

Hadu, malah promosi. Hehe.

Pertama kali saya dan keluarga ke Korea sekitar akhir November tahun lalu. Di penghujung musim gugur, dengan udara yang cukup dingin namun tidak bikin malas keluar kamar hotel. Untungnya kami menginap di daerah Insadong, dekat ke istana-istana terkenal seperti Gyeongbokgung dan Changdeokgung, dan pusat perbelanjaan seperti Myeongdong dan Insadong Street Market. Malah, keluar dari hotel tinggal ke arah kanan, melewati satu perempatan, dan sampailah saya di Insadong Street Market.

Pertama kali mencoba fish cake di malam hari yang cukup dingin. Adik saya yang pertama beli, di suatu kedai pinggir jalan yang juga menjual tteokbokki. Harga satu fish cake itu ₩ 1,000 atau sekitar Rp 13.000 pada saat itu. Dan ternyata... enak euy. Lembut gitu, belum lagi kuahnya bikin tubuh hangat. Satu saja tidak cukup, saya dan adik-adik saya akhirnya beli lagi. Sampai mas-mas penjualnya hapal muka kami. Hehe. Ketika dibandingkan dengan tempat lain, fish cake di kedai itu yang paling enak rupanya. Duh, jadi kangen. Sama jadi laper euy.

Begitulah cerita saya tentang fish cake, semoga suatu hari nanti bisa beli di kedai mas-mas itu lagi, dan semoga rasanya tidak berubah ya 🙇

- - -

Originally post at IG for @30haribercerita #30haribercerita #30HBC1920

Saturday, 19 January 2019

30HBC1919: 2009 - 2019



- - -

Mencoba mengikuti #10yearschallenge, akhirnya gue buka lagi buku tahunan SD. Haha.

10 tahun yang lalu, ketika kulitnya item karena sering banget berenang dan sudah pakai kacamata karena hobinya baca novel Harry Potter di kamar dengan lampu remang-remang. Alay pada jamannya, alias baru banget bikin e-mail, facebook, dan twitter. HP masih nokia jadul yang cuma bisa sms, telpon, dan main games Snake. Kemudian kenal mxit dan semakin alay HEHE (mon maap nih ya, ketika gue masih gw dan lo masih lw, ketika hai jadi ae dan berbagai bahasa-bahasa berbeda lainnya). Ditambah lagi belum mengenal cintacintaan dan deramakehidupan lainnya. Drama yang saya kenal saat itu cuma susahnya nurunin berad badan :( Eh sampai sekarang juga deng HA.

Kalo sekarang? Pusying dengan perkehidupan skripsweet dan prospek lulus-kuliah-gatau-kerja-gimana (😭). Masih item karena hobinya masih berenang ditambah kegiatan-kegiatan lapangan seperti Karangsambung dan sejenisnya. Masih pakai kacamata karena makin sering baca novel (dan baca fanfic di HP HEHE). Kegagalan nurunin berad badan masih saja terjadi, bung. Setelah melewati keindahan yang namanya Fisika Dasar-Fisika Matematika-Metode Numerik, gue gak ngerti lagi kenapa dulu dengan polosnya gue nulis cita-cita di buku tahunan SD itu ahli komputer atau ahli fisika. Ngakak.

(Kalo diliat-liat, kok dulu gue jelek amat dah ya udah mah item chubby pakai kacamata :( hadu. Eh tapi, banyak berubahnya gak sih sama yang sekarang? Haha)

- - -

Originally post at IG for @30haribercerita #30haribercerita #30HBC1919

Friday, 18 January 2019

30HBC1918: Tenang



- - -

"Harap tenang"; tema bercerita hari ini.

"Apa yang terlintas dipikiranku saat mendengar kata 'tenang'?" aku bergumam kepada diri sendiri.

Tenang, bagiku, adalah beberapa saat ketika hujan terhenti. Ketika langit sudah puas mencurahkan emosinya; ketika dedaunan dengan bahagianya dipertemukan dengan sumber kehidupannya; ketika aku menarik nafas dan mencium sejuknya alam yang dihidupkan kembali, dingin yang terasa hingga ke tulang.

Tenang, bagiku, adalah ketika aku menyeruput segelas kopi hangat di pagi hari; ketika tidak ada hal yang perlu dilakukan sepanjang hari; ketika aku bisa menghabiskan segelas kopi tanpa terburu-buru.

Tenang, bagiku, adalah sepersekian detik saat tubuhku menyentuh air di kolam renang; ketika semua kebisingan, hiruk pikuk kehidupan teredam oleh air disekitarku; ketika aku menutup mata dan mempercayai ilusi dimana badan dan pikiran seolah-olah tidak ada beban.

Tenang, bagiku, adalah melihat mentari tenggelam; ketika selesai sudah tugasnya untuk menghidupi bumi bagian dimana diriku berada; ketika aku menghela nafas dan bersyukur bahwa hariku, mau bagaimanapun berjalannya, sudah selesai.

Tenang, bagiku, adalah ketika tubuhku memeluk gitar kesayangan yang sudah menemaniku selama lebih dari satu dekade; ketika jemari ini menari dengan lincah dan menimbulkan melodi yang membuatku tersenyum; ketika aku hanya perlu merebahkan kepala ke punggung gitar, dan menutup kedua mataku.

(Tenang, bagiku, adalah melihat senyummu, yang entah bagaimana dapat membuatku percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja)

Apa tenang bagimu?

- - -


p.s: maaf ya direpost, saya bingung pake foto yg mana :(


Thursday, 17 January 2019

30HBC1917: Tumpuk di Tengah



- - -

Beberapa hari belakangan ini, marak sekali berita mengenai KFC yang menganjurkan pelanggannya untuk membuang bekas makanannya ke tong sampah. Jelas, seperti netizen Indonesia pada umumnya, hal ini menimbulkan banyak komentar (dan nyinyiran). Mungkin sudah jadi kebiasaan bagi orang Indonesia untuk membiarkan pelayan tempat makan (baik itu fast food restaurant, foodcourt, atau kedai-kedai makan lainnya) membersihkan tempat makannya. Bahkan di restoran fast food yang sudah menyediakan tempat makan plastik sehingga bisa langsung dibuang, pelanggan sering meninggalkan bekas makanan begitu saja sehingga pelanggan baru yang mau duduk harus menunggu pelayan, yang acap kali sibuk atau memang sedikit, untuk membersihkan meja sebelum bisa digunakan kembali.

Kebiasaan yang seperti ini, ditambah dengan mindset seperti 'namanya juga pelanggan masa harus buang sampah juga?', atau 'lah nanti pelayan kerjanya apa dong?' yang membuat orang Indonesia gini-gini aja. Janganlah mimpi bisa jalan-jalan ke luar negeri kalau sikapnya masih seperti ini. Cek negeri sebelah, seperti Singapur atau Malaysia. Mereka yang makan di restoran fast food seperti McDonnalds atau KFC pasti membuang sampah bekas makannya sendiri. Bahkan di beberapa negara tempat sampahnya tidak disatukan tetapi sudah dipilah antara sampah bekas minum, sampah bekas makan, hingga sampah sisa minum (seperti es yang belum habis). Dan pasti, pelanggan selalu membuang sampahnya sendiri.

Nah, kalau di restoran yang menggunakan piring biasa, bagaimana? Tumpuk di tengah. Gak usah banyak komentar. Memudahkan pelayan buat mengambil dan membersihkan meja. Membuat pelanggan yang baru lebih cepat dapat tempat duduk. Kalau kita sebagai manusia masih bisa membantu orang lain, sesedikit atau sesederhana sikap kita, kenapa enggak?

(Karena, satu perkataan papah saya yang paling saya ingat adalah, kalau kita belum bisa bermanfaat bagi orang lain, minimal kita tidak menyusahkan orang lain)

- - -