Wednesday, 30 January 2019

30HBC1930: Sampai Jumpa



- - -

Aku berkata "sampai jumpa" dan bukan selamat tinggal, karena selamat tinggal mengisyaratkan bahwa kita tidak akan bertemu kembali.

Aku berkata, "sampai jumpa", karena aku yakin kita akan bertemu kembali. Suatu saat nanti. Suatu hari nanti.

Ketika waktu mengizinkan. Ketika diri dan raga sudah siap. Ketika takdir mengatur kehidupan sedemikian rupa agar kita dapat bertukar sapa kembali.

Karena aku yakin ini bukan garis batas terakhir, bukan titik pada penghujung sebuah cerita. Karena kita berada di bawah langit yang sama, berpijak di tanah yang sama.

(Ini tahun kedua saya mengikuti @30haribercerita. Ternyata, dalam setahun, banyak sekali hal yang telah terjadi kepada saya, dan banyak sekali pelajaran yang saya terima dari kehidupan. Tahun ini pula direpost dua kali :" HEHE, dan mendapat banyak kenalan! Terima kasih, dan sampai jumpa di bulan Januari 2020!)

- - -


Tuesday, 29 January 2019

30HBC1929: alone



- - -

so today my brother wanted me to go to bandung. something about his stat as an (ex)student. well, i may groan and doing this reluctantly, but it is an opportunity to roam in bandung alone.

yeah, its kinda my 'thing' to go someplace or doing something alone. it feels better sometimes, because i dont have to interact with people for awhile. not that i hate people, no. but after a few hours of interacting, i cant help but feel exhausted. its exhausting, honestly.

its good. bandung always feels good to me. whether it was raining or not. there's something about this city that makes me love her so much. its good to just walk, listening to some music and watch people go on with their lives.

i only got a few hours here. but its worth it. i hope i got to do this again.

- - -

Originally post at IG for @30haribercerita #30haribercerita #30HBC1929

Monday, 28 January 2019

30HBC1928: away



- - -


if i ask you to run away with me, will you?

if i ask you to go, somewhere, anywhere, to a place where no one know us, will you?

if i ask you to pack your bag, bring your guitar and that sweater i loved, will you?

if i ask you to trust me and close your eyes, throw a dart on that map hanging on my wall to let us know where will we go next, will you?

(i dreamnt a dream when i discover a whole new place with you, one time ago. now, it seems silly to not just do that. when we still have time)

(i didn't ask you all of that. i only ask you to hold me close and never let go. but that night, your fingers fell from mine, breaking us apart)

(now you're on your own, because you left me to a place that i cannot follow, not yet)

- - -

Originally post at IG for @30haribercerita #30haribercerita #30HBC1928

Sunday, 27 January 2019

30HBC1927: Harap Tenang!



- - -

"Harap tenang! Budi dan ibunya sedang berdiskusi tentang hal ini, jadi tolong jangan berisik ya," aku berkata ke sekumpulan orang yang duduk di teras rumah Budi.

Budi itu teman baikku. Dia juga memiliki suara emas. Sering bergabung denganku dan beberapa temanku untuk nge-band di cafe-cafe dan pensi sekolah. Beberapa minggu yang lalu, Aldo sang bassis kami tercinta diam-diam mengunggah salah satu video kami, yang direkam saat kami main di garasi rumahku, ke sebuah perlombaan band di Surabaya. Iseng-iseng aja, katanya. Toh sepertinya tidak akan menang, karena awalnya kami kira videonya gagal dan penuh dengan suara tidak jelas. Eh, ternyata menang.

"Aku gak bisa tampil di depan umum dengan penonton sebanyak itu, Bu! Aku yakin suaraku bakal terdengar seperti kucing kita yang sedang bertengkar dengan kucing di jalan. Bagaimana jika mereka ternyata salah mention bandnya? Bukan kami yang menang? Kan malu!"

Suara Budi terdengar sampai ke teras. Aku yang mendengarkannya hanya bisa menghela nafas. Budi memang seperti itu. Tidak pe-de dengan suaranya sendiri.

Terdengar beberapa suara lagi, kemudian hening. Kami yang menunggu di teras merasa sangat gugup. Budi vokalis kami, tidak mungkin kami mencari orang lain untuk menggantikan dia!

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan keluarlah Budi sambil tersenyum-senyum. Kami hanya memandangnya sementara ia gugup sendiri. Setelah beberapa menit tanpa jawaban, aku akhirnya berdiri dan mendecak selagi berkata, "Jadi, kau ikut atau tidak?"

Budi hanya mengangguk.

Kami bersorak bahagia. Aku mendekati Budi dan memeluknya, sembari berbisik, "Jadi, apa yang membuatmu percaya diri sehingga ikut?" Karena aku tahu Budi tidak akan semudah itu mengubah pikirannya.

Budi hanya tersipu dan menjawab, "Ibu yang membuatku yakin. Kamu tahu kan, Ibuku sama sekali pemilih soal lagu. Kalau gak suka, suara anaknya sendiri pun pasti gak dinikmatin. Tapi kata Ibu, suaraku bikin orang melayang ke angkasa, terbuai, sebelum akhirnya tiba di Bumi lagi."

- - -


Saturday, 26 January 2019

30HBC1926: senyum



- - -

aku tidak ingat pertemuan pertama kita. aku tidak ingat percakapan pertama kita. aku bahkan tidak ingat kapan tepatnya kita saling kenal satu sama lain. perhatianku tercuri oleh kehidupan. sekalinya aku kembali terfokus pada sekitarku, kamu sudah ada di sini.

aku yakin sebelumnya kamu sudah pernah tersenyum kepadaku. tapi tidak ada yang aku ingat. baru pada saat itu, saat diriku terdiam dan tersadar akan kehadiranmu, aku berfikir, "oh, kau di sana rupanya. hai."

lalu, aku melihatmu tersenyum, seolah untuk pertama kalinya.

aku jatuh hati.

(bahkan, hingga sekarang. walaupun sekarang, selain selalu terasa seperti yang pertama kalinya, tapi diikuti dengan rasa pahit dan kesadaran bahwa senyum itu bukan lagi untukku)

- - -

#excerptfromabookillneverwrite

p.s: iya maaf ya galau lagi.