Wednesday, 16 January 2019

30HBC1916: date sixteen



- - -

hello. we meet again.

it is a blessing to have another year full of happiness and sadness and everything in between. to know that i am, indeed, growing up as much as i am able to. that i have learned so much in a year.

here's hoping i will meet you again, next year, with all my family and friends intact, and becoming a wiser and better person. here's hoping to another year full of stories and craziness.

happy being 22, girl.

- - -

Originally post at IG for @30haribercerita #30haribercerita #30HBC1916

Tuesday, 15 January 2019

30HBC1915: Siblings



- - -

Adikku ada dua. Yang satu namanya Arkan, yang satu lagi namanya Aisyah. Iya, kita bertiga sama-sama punya nama dari huruf 'A'. Pas ditanya kenapa ke papah-mamah, katanya supaya pas sekolah absennya awal-awal. Okesip.


Arkan dua tahun lebih muda. Sekarang lagi kuliah juga di sebuah universitas di Depok. Jurusan Ekonomi. Suka, ceunah. Beda sama kakaknya yang dulu pas SMA ulangan Ekonominya selalu remedial. Arkan juga suka JKT48, hobinya nonton teater di FX Sudirman. Sama-sama bisa ngegitar dan berenang, tapi dia jago batminton juga.



Aisyah enam tahun lebih muda. Sekarang lagi merasakan masa-masa paling indah alias SMA. Dulu suka ngebasket tapi sekarang berhenti. Suka baca webtoon dan wattpad, beda sama kakaknya yang base-nya di AO3 hehe. Sama-sama hobi baca juga, tapi dia lebih suka tipe-tipe cerita karya Tere Liye dkk.



Kalau lagi jalan bertiga, entah mengapa biasanya Arkan yang dibilang paling tua. Atau engga, aku dan Aisyah dibilang kembar. Pas dibilang aku yang paling tua dan kita beda enam tahun, suka tidak percaya. Kenapa sih ya 😣

- - -

Originally post at IG for @30haribercerita #30haribercerita #30HBC1915

Monday, 14 January 2019

30HBC1914: one day



- - -

suatu hari, kamu menelponku dan berkata ingin makan es krim. aku bilang, "sekarang sudah jam 6 sore dan di luar suhunya 8°."

kau tertawa dan berkata, "kapan lagi kalau tidak sekarang?"

kamu mengetuk pintu rumahku dan menarik tanganku sesegera aku selesai mengunci pintu. aku hanya menggelengkan kepala, seraya bergumam, "i really need to remind myself why i love you."

di depan kedai es krim langgananmu, kamu tersenyum dan menyodorkan es krim favoritku. "nih makan, dasar cewek judes," ucapmu sembari tertawa.

hearing your laugh, i remember why i love you.

"untung kamu ganteng. kenapa malah kamu yang ribet banyak maunya, ya."

tawamu muncul lagi. "untuk menyeimbangkan dirimu yang terlalu cuek!"

aku tersenyum kecil. terkadang, aku bingung mengapa dirimu memilihku yang, aku sendiri sadar, terlalu cuek dan, seperti katamu sendiri, judes.

tiba-tiba, tanganku yang tidak memegang es krim kamu genggam. "dingin, ya. kenapa gak pakai sarung tangan?"

"karena kamunya buru-buru mau pergi," sahutku.

kamu tersenyum lembut, mengantongi tanganku di kantung jaketmu. "thanks for the date even tho its cold."

"anything for you, even when you want some ice cream on this weather."

- - -


p.s: mon maap terlalu pendek dan terburu buru, hehe

Sunday, 13 January 2019

30HBC1913: rindu



- - -

ketika panggilan untuk menunaikan ibadah terdengar, segera kaki ini melangkah, berharap untuk bisa sujud di barisan depan. manusia dengan keberagamannya, dengan hidup dan budaya dan bahasa dan warna kulit yang berbeda, namun sama-sama melantunkan doa kepada Yang Maha Kuasa.

beberapa hari tidaklah cukup untuk memuaskan rasa rindu ini. mungkin tidak akan pernah cukup. diri ini hanya bisa berdoa kepada-Mu ya Allah, agar diberi kesempatan untuk bertemu kembali.

- - -

Originally post at IG for @30haribercerita #30haribercerita #30HBC1913

Saturday, 12 January 2019

30HBC1912: Bagaimana Jika



- - -

Bagaimana jika saat itu aku memutuskan untuk tidak menimba ilmu di tempat ini? Untuk tidak meninggalkan kota kelahiranku? Mungkin kisah yang kuutarakan beberapa tahun belakangan ini akan sangat berbeda. Teman yang berbeda, pengalaman yang berbeda.

Bagaimana jika saat itu aku memutuskan untuk tidak memilih keilmuan ini? Untuk lebih memilih belajar mengenai kecintaanku akan seni berkata-kata? Mungkin aku akan lebih bahagia, mungkin juga tidak.

Bagaimana jika saat itu aku lebih memilih untuk bertahan dan tidak melepaskan? Untuk berjuang dengan upaya yang lebih besar? Mungkin aku akan memiliki cerita yang jauh berbeda beberapa tahun belakangan ini, mungkin juga tidak.

(Bagaimana jika saat itu aku lebih berani? Lebih sembrono? Lebih percaya diri? Untuk menanyakan kabarmu, atau memulai percakapan tentang hidup masing-masing? Mungkin sekarang aku tidak akan merasakan penyesalan akan melewatkan seseorang yang mungkin akan menjadi dia yang berharga di hidupku.)

(Karena setiap keputusan akan selalu menimbulkan pertanyaan "bagaimana jika...", bahkan ketika tidak ada penyesalan yang muncul setelahnya.)

- - -